Machiavelli dan Penguasa Kekuasaan

Say

Judul: Penguasa Arsitek Masyarakat

Penulis: St Sularto

Pengantar: Franz Magnis Suseno

Penerbit: Kompas

Cetakan: 1, 2006

Tebal:

Xxvi+132 halaman

 

Niccolo Machiavelli, sang politikus kontroversial. Lahir di kota Firenze, 3 Mei 1469 dalam sebuah keluarga  ningrat. Di masa muda, ia bergelut dengan pendidikan khas Italia yang mengembangkan nilai-nilai humanisme. Dan hal itu dikemudian hari  sangat berpengaruh terhadap pemikiran-pemikirannya. Kemampuan dan kecakapannya dalam berdiplomasi mejadikannya diangkat sebagai kanselir pemerintahan Firenze pada umur 25 tahun. Sejarah hidup Machiavelli dapat dikategorisasikan menjadi tiga periode.[1] Pertama (1469-1494), pada masa ini Machiavelli memenuhi kegiatan hidupnya dengan pembelajaran, terutama studi tentang humanisme. Kedua (1494-1512), pada masa ini Machiavelli hidup dalam dunia politik. Oleh Gonfalonier Piero Soderini Machiavelli diangkat menjadi salah satu kanselir Firenze. Di masa inilah bahan-bahan pemikiran dan ide-idenya terkumpul. Ketiga (1512-1527), adalah masa-masa ketika Machiavelli meninggalkan panggung  politik. Dalam periode ini karya-karya Machiavelli muncul.  

 Machiavelli di kenal sebagai pemikir politik yang dikenang hingga saat ini. Hal ini tak lepas dari dua karya menumentalnya, Il Principe (sang penguasa) dan Discorsi (percakapan). Dua buku yang diselesaikannya dalam rentang waktu lima tahun ini, membawa namanya ke dalam sebuah polemik yang dalam. Selama beberapa abad, kutukan dan makian terhadapnya terus menggema. Baru pada abad ke sembilan belas upaya untuk mengangkat pemikiran dan harapan Machiaveli  yang sesungguhnya mulai dilakukan.

Il principe merupakan buku yang berisi anjuran-anjuran yang di peruntukan bagi penguasa. Nasehat terkenal dari buku ini, “penguasa harus setengah manusia-setengah binatang” atau “penguasa harus segarang singa dan secerdik serigala”. Dari sinilah muncul kebencian sebagian orang terhadap pemikiran Machiavelli. Politikus satu ini dianggap telah mengajarkan ajaran jahat yang mencoba menghidupkan kembali ajaran setan yang dibuat Cicero, sang politikus Romawi. Dalam buku ini, seolah penguasa dibolehkan, dianjurkan atau bahkan diwajibkan melakukan tindakan apa saja demi mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan adalah mutlak bagi seorang penguasa. Dengan demikian, penguasa boleh menjadi “tuhan” di bumi, demi kekuasaannya. Apapun yang dilakukan penguasa, asalkan bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan dan kedaulatan negara, adalah baik. Rakyat tak boleh protes, apalagi membangkang, mereka harus diam dan tetap patuh pada penguasa.

Lain dengan Il principe, discorsi adalah buku yang membicarakan bentuk negara yang ideal, dengan konsep negara yang berbentuk republik. Di sini tak lagi penguasa dapat melakukan keinginan sekehendak hati. Ada sesuatu yang membatasi wewenang penguasa, yaitu rakyat. Dalam buku ini kehendak rakyat di beri ruang yang luas. Kemerdekaan adalah lambang utama yang harus ditegakkan. Penguasa tidak boleh memaksakan kehendaknya, penguasa hanya boleh menjadi pejaga agar kemerdekaan itu tetap terjamin. Dalam buku ini, Machiavelli membayangkan suatu negara yang benar-benar ideal, suatu negara yang jauh dari perselisihan, perpecahan dan konflik. Suatu negara yang dilandasi kedewasaan warga negaranya.  

Dari dua bukunya ini, seperti ada kontradiksi antara satu dengan yang lain, padahal buku ini ditulis dalam rentang waktu yang tidak begitu lama. Bagaimana dua konsep yang bertoalak belakang muncul dari seorang penulis yang sama?

Dalam bukunya yang berjudul Penguasa Arsitek Masyarakat, Stanislaus Sularto menjelaskan hal itu. Buku setebal 132 halaman ini menjelaskan bahwa dua karya Machiavelli ini pada hakikatnya tidaklah berlawanan, hanya hal yang melatarbelakangi saja yang menjadikan hal itu terlihat sebagai sebuah kontradiksi. Menurut St. Sularto, dalam buku Il principe sebenarnya Machiavelli menginginkan adanya kesatuan utuh di Italia yang sedang kacau balau. Dan cara yang sesuai pada waktu itu adalah dengan teori penguasa tersebut. Tidak ada cara lain, begitulah Machiavelli beranggapan.

 Masyarakat Italia masa Machiavelli, adalah masyarakat yang miskin solidaritas antar kota. Masing-masing ingin menjadi pemimpin yang lainnya. Masyarakat yang belum tertata dan kacau balau seperti itu, jelas tidak akan mampu mewujudkan suatu negara republik. Hanya dengan menjadikan raja atau penguasa sebagai pemaksa, maka Italia baru dapat dipersatukan. Maka perlu dilihat bahwa konsep penguasa ini merupakan perintis terbentuknya negara republik. Jadi antara Il principe dan discursi  tidak ada kontradiksi. Yang ada adalah sebuah rantai yang saling terkait erat. Satu negara republik dapat muncul apabila masyarakatnya sudah teratur, telah siap dengan kesadaran untuk berepublik. Dengan demikian tujuan utama Machiaveli untuk mempersatukan Italia memang haruslah diwujudkan dengan tahapan-tahapan yang matang.

Satu hal yang menarik dari buku Penguasa Arsitek Masyarakat, bahwa dalam bab terakhir St. Sularto membandingkan ajaran kekuasaan Machiavelli dengan konsep kekuasaan kerajaan di Jawa. Di sini St. Sularto mengajak pembaca untuk menelusuri, hakikat kekuasaan di Jawa yang jelas berbeda dengan di Eropa. Meskipun sama-sama mengagungkan kekuasaan mutlak yang bertumpu pada raja, namun dua konsep ini sangatlah berbeda. Jika konsep kekuasaan di Jawa menitik beratkan adanya suatu kekuatan magis yang mengendalikan raja, maka di Eropa tidak ada. Konsep kekuasaan yang ada di jawa memiliki keunikan-keunikan yang tidak dimiliki konsep kekuasaan Eropa masa Machiavelli. Sebut saja konsepsi Islam-kejawen yang menjadi dasar kekuasaan kerajaan jawa. Konsepsi Islam ini telah menjadi satu dengan konsep kejawen, dan kemudian melahirkan dualisme kepribadian dalam diri raja-raja jawa. Dualisme ini menjadi begitu penting, bagi orang jawa keduanya tidak dapat dipisah. Antara religiusitas islam dan mistisitas kejawen.

Untuk lebih memahami pemikiran Machiavelli, menurut St. Sularto, pembaca haruslah membaca Il principe dan Discursi. Dengan hanya mebaca Il principe saja, pembaca  hanya akan mendapatkan sosok kejam pemikiran Machiaveli saja.   

Secara keseluruhan buku Penguasa Arsitek Masyarakat ini enak di baca, tidak njelimet dan tentunya akan membuka wawasan pembaca untuk lebih tahu pemikiran Machiavelli yang sebenarnya.  

 

 




[1] Hal 10.

Tinggalkan Balasan